Wednesday, December 10, 2008

CHKDSK tiap kali WinXP startup

Tentu sebel donk kalau tiap kali menyalakan komputer, selalu harus menunggu cukup lama. Yaitu menunggu system chkdsk berjalan memeriksa error pada harddisk. Lebih sebel lagi, jika error ini tak kunjung dapat diperbaiki oleh chkdsk, sehingga tiap kali booting, selalu chkdsk otomatis jalan.
Berikut ini adalah tahap-tahap cara untuk memperbaiki masalah ini. Bukan hanya sekedar mematikan chkdsk on bootup process, tetapi sekaligus memperbaiki error yang terjadi pada harddisk.
  1. Nyalakan command prompt console, ketik fsutil dirty query e: (asumsi e: ialah nama drive yang bermasalah). Perintah ini berguna untuk memeriksa, apakah masalah pada harddisk ini benar-benar masih terjadi, atau sudah berhasil di perbaiki.
  2. Selanjutnya, matikan saja terlebih dahulu chkdsk pada proses bootup, cukup ketik chkntfs /x e:
  3. Reboot WinXP. Pasti chkdsk sudah tidak akan berjalan secara otomatis lagi saat bootup.
  4. Jika sudah kembali ke windows, nyalakan kembali command prompt console, ketik chkdsk /f /r e: Perintah ini akan memeriksa dan otomatis memperbaiki drive dalam 5 step diagnostik.
  5. Kembali periksa apakah masalah pada harddisk telah selesai, ketik fsutil dirty query e:

That's all. Harddisk kembali sehat, dan bootup lari kencang.

Pindahan Outlook

Saya adalah pengguna Microsoft Outlook. Jika ditanya kenapa? Karena saya butuh syncronisasi dengan kedua mobile phone saya segala data-data yang ada, terutama data-data kontak.
Nah, saat ganti hardware, tentu segala data Outlook harus ikut dipindahkan. Saat tulisan ini saya buat, saya menggunakan Microsoft Outlook 2007.
Untuk memindahkan data-data ini, saya hanya perlu mencari file Personal Storage Folder, yaitu file Outlook.pst yakni file yang menyimpan data-data email, kontak, task dan calendar. File ini tersimpan di:
C:\Documents and Settings\username\Local Settings\Application Data\Microsoft\Outlook\
Cukup hanya satu file ini saja, maka semua data-data Outlook dapat dipindahkan dengan mudah. Caranya ialah:
  1. Membuat profile baru di Outlook yang baru.
  2. Setelah masuk ke dalam Outlook, klik File > Import and Export
  3. Pilih Import from another program or file, lalu klik next
  4. Pilih Personal Folder File (.pst), , lalu klik next
  5. Tekan tombol browse, dan arahkan ke file Outlook.pst dari komputer lama
  6. Import mail langsung ke Personal Folders yang utama.

Tulisan ini berdasarkan pada referensi yang diperoleh dari:
http://support.microsoft.com/kb/287070
Mudah sekali bukan...??


Monday, December 8, 2008

Pindahan Pidgin ke Kompie lain (Win32)

Tulisan ini bermula dari saat aku telah selesai menginstall harddisk kompie ku yg baru dan hendak memindahkan semua log percakapan yang ada. Pidgin yang aku gunakan di sini ialah Pidgin for Win32, yaitu aku install pada system berbasis Microsoft Windows XP. Pada saat tulisan ini aku buat, recent version dari Pidgin ialah version 2.5.2.
Informasi dalam tulisan ini, mengacu pada F.A.Q dari Pidgin, yang dapat dilihat di:
http://developer.pidgin.im/wiki/Using Pidgin
Semua data-data tentang setting, baik setting account, option, alias, dan log percakapan, ternyata tidak disimpan di folder instalasi Pidgin itu sendiri. Melainkan ternyata semua hal ini disimpan di folder:
C:\Documents and Settings\username\Application Data\.purple
Untuk setting account ada di:
C:\Documents and Settings\username\Application Data\.purple\accounts.xml
Untuk setting alias account ada di:
C:\Documents and Settings\username\Application Data\.purple\blist.xml
Untuk log percakapan ada di:
C:\Documents and Settings\username\Application Data\.purple\logs\
Tinggal copy saja semua file-file di atas ke kompie baru yg sudah diinstall Pidgin juga, langsung semuanya akan kembali seperti semula.

Thursday, October 23, 2008

View Hardware Specs on Ubuntu via CLI

Salah satu kesulitan jika memakai Ubuntu versi Server Edition ialah apabila hendak melihat spesifikasi dari hardware yg kita gunakan. Nah, ternyata ada command yang bisa dipakai untuk melihat spesifikasi hardware ini, hingga secara detail. Cukup ketikkan:
sudo lshw
maka seluruh hardware yang terpasang akan di scan dan di outputkan via command line interfaces (cli).
Tetapi terkadang, spesifikasi ini demikian detail hingga terlalu panjang untuk dilihat semua. Nah, ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini.
  • Cara pertama, ialah dengan menampilkan spesifikasi tanpa detail sama sekali. Untuk ini, gunakan perintah berikut:
sudo lshw -short
  • Cara kedua: ialah dengan menampilkan spesifikasi dengan output ke file .html untuk dapat dilihat dengan browser. Tentu saja file .html ini harus dicopy keluar terlebih dahulu dari server ke komputer lain agar bisa dilihat. Atau diletakkan sementara dalam apache, jika ada.
sudo lshw -html > nama_file.html
  • Cara ketiga: ialah dengan melakukan view berdasar kategori class dari spesifikasi hardware. Jadi dengan demikian, info yang didapat tetap detail dan dapat ditampilkan dengan tuntas. Gunakan perintah berikut:
sudo lshw -C nama_class
contoh:
sudo lshw -C cpu -> untuk menampilkan info detail processor
sudo lshw -C disk -> untuk menampilkan info detail harddisk
Mudah sekali bukan....

Friday, October 17, 2008

Ganti port ssh server

Dah lama juga aku gak nulis-nulis di sini.
Background problem:
Port standar dari ssh, yaitu port 22, setahuku selalu menjadi sasaran serangan bagi server-server yang goes online. Selain itu, jika punya lebih dari satu server di belakang firewall, tentu susah juga mengatur tunelling masing-masing server jika memakai port ssh standar.
Solusi problem:
Server yang dipakai ialah Ubuntu Server 8.04 Gutsy Gibbon. Setting ssh server atau ssh daemon, dalam ubuntu server disimpan di lokasi berikut:
/etc/ssh/sshd_config

Setelah merubah port ke port yang tidak terpakai oleh program lain, ssh daemon perlu di restart dengan perintah:
/etc/init.d/ssh restart

Langkah terakhir, yaitu melakukan port forwarding dari ipcop firewall untuk port ini, ke server yang dituju. Tidak perlu membuka external access untuk port ini. Karena external access hanya perlu dilakukan jika akses yang dituju ialah ke ipcop nya sendiri. Sedangkan dalam kasus ini, port ini ditujukan ke server yang ada di belakang ipcop firewall.
That's it.

Tuesday, August 19, 2008

QoS NG 1.5.1 didn't work on IPCOP 1.4.21 ???

Beberapa hari yang lalu, temenku yang segede gajah kebetulan melakukan sedikit kutak-katik ama router IPCOP ku. Yach ....sebenarnya aku juga yang suruh sich. Yakni ku suruh untuk buat settingan QoS di IPCOP router ku. Kebetulan aja aku harus ke dokter, dan dia nganggur di depan komputer. Jadilah dia yang musti membuat setting QoS yang seabrek itu.... :)
Tapi setelah semua setting lengkap, kok QoS nya tidak mau jalan. Request dari tiap komputer tetap saja amburadul. Sampai kutulis artikel ini pun, temenku itu tetap saja bingung....
Rupanya permasalahannya ialah karena aku yang tidak teliti. IPCOP 1.4.21 rupanya telah ada pembaharuan kernel, yaitu ke versi 2.4.36. Sedangkan layer7 yang merupakan base dari QoS NG yang kuinstall ialah untk kernel versi 2.4.34. Makanya semua jadi berantakan dech....
Untuk itu, aku harus menginstall layer7 dengan versi kernel yang sesuai. Berikut ini link nya.
Sedangkan untuk QoS NG nya, aku harus melakukan sedikit modifikasi pada file install, yaitu agar saat mendeteksi versi kernel, dapat disesuaikan dengan versi kernel yang baru. Modifikasi dilakukan pada baris:
if [ -e /lib/modules/2.4.34/kernel/net/ipv4/netfilter/ipt_layer7.o.gz]
dimana baris versi kernel 2.4.34 diganti dengan 2.4.36. Lalu tinggal melakukan proses instalasi seperti biasa. Mudah kan......

Thursday, August 7, 2008

Squid for FTP Traffic (continue...)

Today aku mencoba sebuah ide. Begini konsepnya, aku akan men-drop semua packet yang lewat port 21. Dengan demikian, harapanku, traffic ini akan otomatis tidak lagi memiliki direct access, tetapi akan dibelokkan lewat proxy.
Maka aku mengutak-atik sedikit baris di /etc/rc.d/rc.firewall.local, yaitu file yang memang disediakan oleh IPCop apabila kita hendak melakukan custom rules (dengan harapan agar tidak perlu mengutak-atik, atau bahkan merusak tatanan default firewall dari IPCop).
Untuk men-drop semua packet yang lewat port 21, aku menambahkan baris berikut ini:
/sbin/iptables -A CUSTOMFORWARD -i eth0 –o eth1 -p tcp -m mport --dports 21 -j DROP
dimana eth0 ialah interface yang menghadap ke arah LAN, dan eth1 ialah interface yang mengarah ke internet. Kemudian custom rule ini aku jalankan dengan melakukan reload dari file tersebut, yaitu dengan perintah /etc/rc.d/rc.firewall.local reload
Setting koneksi browser kurubah dengan mode manual, dan kumasukkan ip beserta port dari proxy server. Dan langsung kucoba untuk melakukan koneksi ke ftp server dari salah satu game online via browser. Hasilnya memuaskan, traffic ftp dapat dicapture dengan baik oleh squid.
Berikutnya, kucoba untuk melakukan koneksi ftp via software FTP Client, yaitu aku menggunakan FileZilla. Hasilnya menyedihkan, koneksi FTP sama sekali gagal....!!!!
Berikutnya langsung kucoba untuk menjalankan proses patching dari game online yang memiliki ftp server ini. Bah....hasilnya sungguh-sungguh mengecewakan. Proses patching sama sekali gagal terkoneksi, alias koneksi ftp yang hendak dilakukan gagal total.
Kesimpulannya, metode ini memang memaksa koneksi ftp untuk lewat squid, tetapi hanya jika koneksi tersebut dilakukan via browser. Jika koneksi dilakukan via native FTP Client, maka koneksi ftp akan sama sekali gagal dilakukan.

Tuesday, August 5, 2008

Squid for FTP Traffic

Setelah beberapa hari tak tersentuh, project untuk membuat cache dari file-file patch game online berlanjut hari ini. Salah satu kendala saat ini, ialah beberapa layanan sistem patching ini menggunakan protocol FTP. Hal ini terdeteksi dari router, yaitu bahwa saat proses patching berjalan, connection establish pada port 21, yaitu port untuk FTP.
Nah, karena proses ini patching ini berjalan secara in background, maka aku perlu melakukan snifing untuk mengetahui ke arah mana proses ini berjalan, dan file-file apa saja yang diambil. Untuk proses snifing, aku memakai program classic, yaitu ethereal.
Setelah data-data terkumpul via snifing, yaitu ip address dari FTP server yang dituju, lengkap dengan jenis-jenis file yang di download untuk proses patch ini, maka aku mulai kembali untuk menata scripting dari update-accelerator.
Tetapi, ternyata setelah data-data tersebut aku implementasikan ke script update-accelerator, ternyata, tetap saja file-file patch ini gagal di cache. Waduh......apa yang salah yach...???
Lalu kucoba untuk mengintip log file dari squid. Karena bagaimanapun, proses cache ini kan berbasis atas deteksi dari traffic yang lewat dan dimonitor oleh system proxy, yang dalam hal ini ialah berbasis squid versi 2.6.STABLE17.
Setelah membaca ratusan baris dari log file yang ada, ternyata tak ada satupun traffic FTP yang berhasil dipantau oleh squid. Timbul pertanyaan....mengapa???
Setelah googling sejenak, kutemukan jawabannya pada miniHowTo dari Squid, yaitu ialah karena aku menggunakan sistem transparent proxy. Ternyata sistem transparent proxy memang tidak mampu meng-capture traffic FTP.
Segera saja kumatikan sistem transparent proxy yang ada pada router, dan kemudian aku melakukan setting manual pada web browserku untuk konfigurasi proxy. Langsung kucoba untuk membuka web browser dan mendownload sembarang file dari sembarang FTP server. Saat kuintip di log dari squid, dan olala.....ternyata traffic FTP sudah nongol di log file. Duh lega rasanya.
Langsung kucoba ulang dengan melakukan download salah satu file patch milik online game via web browser, dimana yang telah kucoba kumasukkan di script update-accelerator. Ternyata file ini dapat di cache pula dengan baik. File ini dapat muncul dengan sempurna di daftar file-file hasil cache dari update-accelerator pula.
Tapi saat kucoba untuk melakukan patching dari game online tersebut......wele-wele.....ternyata tetap saja tidak ada file yang berhasil di cache. Saat kucoba untuk mengintip lagi file log dari squid, ternyata juga tak terdeteksi traffic FTP apapun di log file ini. Duh...apa lagi yang salah ya???
Tampaknya, kesimpulan sementara, ialah squid hanya mampu mendeteksi traffic FTP yang dilakukan via web browser, bukan traffic via direct FTP. Nah sepertinya proses patching dari game online ini menggunakan proses direct FTP, bukan proses FTP di atas HTTP. Sehingga dengan demikian prosesnya tidak ada yang terdeteksi oleh squid. Entah benar atau salah kesimpulanku ini????


Tuesday, July 29, 2008

DNS error in reparing WinXP connection

Setelah berganti-ganti ip, gateway, dns, add alias ip, dan sebagainya, terkadang kita membutuhkan untuk mengupdate sistem koneksi WinXP dengan update data-data terbaru yang kita lakukan, yaitu dengan melakukan repairing connection. Nah, terkadang proses repair ini gagal dilakukan. Muncul pesan bahwa dns repairing gagal di lakukan karena proses clearing gagal atau kata-kata semacam gitu lah....
Cara paling mudah untuk mengatasi hal ini ialah dengan menggunakan sedikit kegiatan ketik mengetik pada layar CLI atau yang dikenal dengan layar Command Prompt pada WinXP. Lakukan perintah berikut:
C:\> net stop dnscache
Perintah ini bertujuan untuk menghentikan services dari DNS Client. Selanjutnya ketik:
C:\> ipconfig /flushdns
Dengan perintah ini, maka proses dns clearing akan dilakukan. Yang terakhir ialah:
C:\> net start dnscache
Yaitu menjalankan kembali services dari DNS Client.
Tetapi, terkadang proses di atas, dari awal telah gagal dilakukan. Saat services DNS Client dihentikan, telah muncul peringatan bahwa services ini memang sedang tidak aktif. Jika memang services ini sedang tidak aktif, maka tentu saja services ini tidak dapat dihentikan sementara. Apa yang mau dihentikan....sedangkan services nya jalan saja ndak..... :)
Untuk memeriksa apakah services DNS Client telah berjalan atau tidak, sekali lagi, cara tercepat ialah dengan melalui Command Prompt, yaitu ketik:
C:\> services.msc
Maka akan terbuka sebuah windows baru dengan title Services. Ini merupakan daftar dari berbagai services yang ada di dalam windows kita. Cari saja proses services yang bernama DNS Client. Periksalah dari Startup Type dari services ini, jika dalam posisi Disable, rubahlah ke Automatic. Lalu proses clearing di atas baru boleh dimulai.
Inilah terkadang keanehan WinXP, sebuah proses services yang seharusnya mutlak diperlukan, tahu-tahu tanpa sebab akibat yang jelas, dapat berubah sendiri ke status Disable. Aneh kan...???

Sunday, July 27, 2008

SnatGUI problem

Aku memiliki router lama, berbasis IPCOP 1.4.11 dengan mod SnatGUI 1.9. Everything works fine with this router. Tapi karena sudah terlalu lama, maka aku install ulang dengan IPCOP 1.4.20 dengan mod SnatGUI 1.9.2.
Setelah router selesai diinstall, semua komputer yang tercantum dalam daftar SNAT dapat melakukan koneksi dengan normal. Tetapi komputer-komputer yang terkoneksi langsung dari green ke red, menunjukkan keanehan. Komputer-komputer ini dapat melakukan koneksi TCP/IP dengan normal, kecuali koneksi untuk traffic http. Jadi dengan kata lain, semua komputer yang terkoneksi langsung via default red IP, tidak bisa dipakai untuk browsing internet.
Pasti ada modifikasi dari ver. 1.9.2 yang aku duga telah menyebabkan hal ini. Maka aku lalu membanding kedua versi yang telah kupakai ini, yakni ver. 1.9 dan 1.9.2. Aku memakai software WinMerge untuk melakukan komparasi dan menemukan perbedaan dari kedua versi ini. WinMerge merupakan tool open source yang sangat berguna untuk melakukan komparasi dari coding atau bahkan sekedar text biasa.
Dari hasil komparasi ini, aku perhatikan ada penambahan atau perubahan pada baris-baris nomor 192, 267, 273, 367, 459 dari versi 1.9.2 yaitu pada baris code:
$CMD="/sbin/iptables -t nat -D CUSTOMPOSTROUTING $netsettings{'GREEN_NETADDRESS'}/$GREENCIDR -i $netsettings{'GREEN_DEV'} -o $iface -j SNAT --to $redip";
Karena kubandingkan dengan versi 1.9, maka aku memutuskan untuk merubah baris-baris ini menjadi:
$CMD="/sbin/iptables -t nat -D CUSTOMPOSTROUTING -s $netsettings{'GREEN_NETADDRESS'}/$GREENCIDR -o $iface -j SNAT --to $redip";

Jadi aku membuang bagian: -i $netsettings{'GREEN_DEV'}. Setelah mensave perubahan ini, kucoba untuk force reload snat. Dan hasilnya everything works fine again.
Aku mencoba mengkontak pembuat mod ini, Mr. Markus Hoffman nuntuk melaporkan mengenai masalah yang ku alami ini dan perubahan yang telah kulakukan. Moga-moga segera di rilis versi SnatGUI yang baru, yang bebas dari masalah.

Clone MacAddress

ISP Quasar Net benar-benar payah....katanya bisa beri support 24x7, 365 hari. Tapi buktinya hari ini, di hari Minggu pagi, di kala aku butuh sedikit bantuan, ku telpon mulai pk. 08.00 sampai 10.oo, tidak terangkat sekalipun. Benar-benar bobrok dan payah nich Quasar Net.
Problemku sebenarnya sederhana saja, harddisk dari router ku kehabisan empty space alias kepenuhan. Hal ini karena sebagai efek dari penggunaan cache dari patch-patch game online. Kebetulan sich harddisk router yang lama cuman memiliki kapasitas 4,3 GB, jadi dipakai beberapa hari saja dah langsung amblas dech.
Nah kebetulan, aku punya cadangan CPU router dengan kapasitas 40 GB. Daripada koneksi kacau, mendingan walau Minggu pagi, yach kusempatkan diriku buat ganti router. Nah, maksudku telpon Quasar Net ini, ialah minta tolong untuk penyesuaian MacAddress dari router ini, dari Mac lama ke Mac yang baru. Karena pasti MacAddress kan di lock oleh mereka. That's all, just a little help.....
Karena tak kunjung bisa dikontak, akhirnya aku putuskan untuk clone saja MacAddress yang lama ke router yang baru. Caranya cukup mudah kok, cukup ketik perintah:
ifconfig [interface name] hw ether [new MAC address]

dimana interface name ialah interface dari ethernet yang konek ke ISP, bisa eth0 atau eth1. Jadi cukup kuketik begini:
ifconfig eth1 down hw ether 00:A0:C9:D7:26:27
ifconfig eth1 up
Mudah sekali kan...?? Langsung selesai kok, cukup dengan 1 baris saja. Besok mungkin pas hari kerja, MacAddress yang baru ini bisa ku telpon mereka agar di appliasikan permanen.
Tapi, btw, sebagai pengguna IPCOP, ternyata ada modul yang bisa dipakai dengan mudah untuk clone MacAddress sewaktu-waktu. Coba lihat gambar di bawah ini....
Gampang banget kan....aku sewaktu-waktu bisa clone MacAddress seenaknya sendiri. Dengan modul kayak gini, aku bisa bebas dari ketergantungan ama ISP.
Goto hell for Quasar Net...

Thursday, July 24, 2008

WinRAR vs. 7zip

Today, aku menerima file game yang dicompress dengan menggunakan format .rar dengan self extract archievement dan di split menjadi 7 tujuh files dengan masing-masing sebesar 200MB. Tampaknya file ini dicompress dengan rasio yang sangat tinggi, ini bisa diduga saat file ini dibuka, membutuhkan waktu lumayan lama, sekitar 1 menit baru terbuka semua susunan nya.
Seperti biasa, aku menggunakan software WinRAR untuk mendeteksi apakah file kompresi ini 100% tanpa error. Waktu pertama kali dibuka, dan klik tombol test, dari output pemeriksaan, ternyata benar-benar 100% tanpa error. Lega dech....
Nah, kemudian siangnya, waktu aku dah mulai senggang, aku coba untuk buka dan extract file ini. Eh....ternyata terdeteksi file archieve ke 2 error. Kucoba untuk ignore, lalu kulanjutkan proses extact, malah file archieve ke 4 contain error juga. Kucoba dech untuk restart komputer, karena siapa tahu, dengan posisi windows fresh, karena siapa tahu ini akibat windows sudah terlalu berat loadnya. Setelah restrart, malah ternyata file archieve yang error ganti, jadi file ke 3 dan ke 5. Ini sungguh aneh, kan awalnya tidak ada error, lalu tahu-tahu muncul error, setelah diulang, malah errornya ganti. Ada yang aneh ini.....
Lalu aku mencoba membuka .rar archieve ini dengan menggunakan software lain. Kupilih menggunakan 7zip, sebuah produk yang cukup populer di luar negeri untuk menangani segala macam file archievement. Tambahan info, produk ini merupakan software open source, alias free software. Kucoba mengulangi untuk melakukan test archievement dahulu. Ternyata info yang ditampilkan lebih lengkap dibandingkan dengan WinRAR, mulai dari estimated time, compression ratio (yang ternyata mencapai 47%...wew), total size, compression size, dsb. Hasilnya ialah bebas error 100%. Langsung aja kucoba untuk mulai ekstract. Ternyata berhasil ekstract 100% tanpa error.
Kesimpulan, ternyata algoritma dari WinRAR kalah powerful jika dibandingkan dengan 7zip, saat menangani file dengan kompresi tinggi. Sayangnya, aku tidak sempat melakukan perbandingan kecepatan waktu ekstraksi.
Ternyata, software open source lebih powerfull loh...

Sunday, July 20, 2008

Cache File-file Patch dari Online Game

Dengan sedikit modifikasi dari modul Update Accelerator versi 2.0.0 dari IPCOP, maka file-file patching dari game-game online bisa dicache. Berikut screenshot dari modifikasi yang aku lakukan.
Screenshot di atas menunjukkan bahwa Update Accelerator telah berhasil melakukan cache dari file-file patch dari Rose Online Indonesia, yaitu game online dengan publiser PT. Serenity.
Asyik kan...bisa hemat bandwidth.....

Sunday, July 13, 2008

AMD Dual Core yang aneh.....

Wew....dah semalaman nich aku bingung ama kasus yang aneh ini.
Awalnya gini, aku mau upgrade Processor dari AMD Sempron 2800 ke AMD Athlon 64 Dual Core 4800, atau yang biasa dikenal dengan AMD Athlon X2. Saat processor ditancapin, Windows XP Home masih bisa menyala dengan baik, dan kemudian mendeteksi adanya perubahan hardware, dan lalu minta restart. Masalah lalu timbul setelah restart, win xp sudah tidak mau menyala lagi. Setiap kali setelah layar POST, saat seharusnya animasi win boot mulai tampil...ehh malah restart ulang awal lagi secara otomatis. Dicoba masuk ke safe mode, hasilnya tetap saja restart. Pas dicoba disable automatic restart, hasilnya juga sama saja.
Penanganan pertama, aku coba kembalikan lagi processor smpron yang lama. Tapi kayaknya win xp dah terlanjur rusak, jadi tetap saja sama. Jadi win xp sudah sama sekali gagal boot.
Penanganan kedua, aku coba cloning dari komputer dengan spesifikasi yang sama persis. Lalu aku coba masuk ke device manager, dari situ kulihat rupanya processor di driver dengan driver dari AMD, bukan dengan driver dari Microsoft, yaitu driver versi. 1.3.2.0. Driver ini lalu aku uninstall hingga benar-benar bersih. Sehingga processor kembali menggunakan driver dari Microsoft. Kemudiaan aku coba tancapkan kembali processor baru....wew....sama saja hasilnya, masih error juga.
Penanganan ketiga, aku ulangi lagi clone win xp nya. Seperti biasa, saat pertama, win xp hasil clone bisa menyala dengan baik. Saat deteksi processor baru, dan minta restart, langsung ku jawab dengan no. Lalu aku masuk ke windows update, di mana seingatku ada update dalam kategori hardware untuk driver AMD yang lebih baru. Ternyata benar, kemudian windows update untuk driver baru ini langsung ku download dan install. Setelah update selesai, diminta restart. Nah, setelah restart.....ternyata masalah lama kumat lagi....
Penanganan keempat, aku coba masuk ke web AMD untuk mencari tahu apakah ada driver dengan versi yang lebih baru dari yang kumiliki. Ternyata kutemukan versi 1.3.2.0053 pada link halaman ini. Tapi ternyata setelah driver ini kuinstall, masalah tetap aja sama.
Penanganan kelima, kucoba untuk boot dengan option last known good configuration, ternyata tetap saja gagal. Tetapi pada saat memanggil menu ini, ternyata ada dua boot option yang tampil. Yang pertama ialah standar instalasi dari xp home, sedangkan yang kedua ialah backup dari TuneUp Utility 2007. Nah saat aku mencoba menggunakan backup dari TuneUp, ternyata win xp bisa boot dengan normal.
Jadi aku penasaran dengan backup dari TuneUp ini. Apa yang membuat backup ini bisa normal loading win xp ini? Jadi aku coba melihat apa perbedaan dari kedua boot option yang ada ini. Aku masuk ke System Properties > Advanced > Startup & Recovery lalu klik tombol Settings, ternyata secara default keduanya memiliki boot parameter yang hampir sama, yaitu: /noexecute=optin /fastdetect /usepmtimer. Yang berbeda ialah pada boot option dari backup TuneUp, tidak terdapat boot option /kernel=TUKernel.exe. Jadi penasaran nich....apa maksud dari kernel parameter ini yach??
Ternyata TUKernel.exe ini digunakan sebagai semacam injector pada system kernel xp, yaitu untuk mengganti boot screen dari win xp. Memang aku mengganti boot screen standar dari win xp dengan image yang kubuat sendiri menggunakan module TuneUp Styler dari TuneUp Utility 2007. Memang salah satu kemudahan menggunakan TuneUp Styler ialah tidak perlu mengutak-atik kernel untuk mengganti boot screen.
Jadi ada dugaan, bahwa saat penggantian processor, kernel win xp ikut menyesuaikan diri. Nah, karena ada parameter TUKernel.exe ini, penyesuaian tersebut menjadi tidak dapat berjalan dengan normal. Jadi saat TUKernel.ini di disable, proses penyesuaian dapat berjalan dengan lancar, dan komputer dapat boot dengan normal. Nah saat kucoba untuk me-load ulang image boot screen yang kubuat, secara otomatis, TUKernel.exe yang baru rupanya dibuat lagi sesuai dengan kernel yang baru. Jadi proses boot ke boot option yang default win xp pun telah normal kembali.
Case closed.....Puji Tuhan. Amien.

Wednesday, July 9, 2008

STOP: 0x0000007B



Today aku ada kerjaan ganti mobo dari yang pake chipset VIA K8M800 ke mobo yang pake chipset nVidia nForce 6150. OS yg dipake ialah WinXP Home Edition.
Nah...pas di booting dengan mobo baru, langsung muncul tampilan layar yang paling nyebelin --> blue death screen, dengan warning message:
STOP: 0x0000007B (0xF797A528, 0x00000034, ..............)
Langkah pertama, langsung ku reset, dan aku coba masuk ke safe mode. Tapi langsung gagal, booting tetap macet dengan warning message yang sama. Coba kontak beberapa temen, cuman 1 sarannya: install ulang aja. Duh..malasnya....masak tidak ada solusi yang lain menghadapi masalah ini.
Aku coba googling untuk cari solusi masalah ini. Nah, kebetulan halaman pertama yang aku dapat ialah dari web support Microsoft. Ternyata masalah ini ialah masalah device driver. Berikut cuplikannya:

Device Driver Issues

You may receive a "Stop 0x0000007B" error message in the following scenarios:
A device driver that the computer boot controller needs is not configured to start during the startup process.
A device driver that the computer boot controller needs is corrupted.
Information in the Windows XP registry (information related to how the device drivers load during startup) is corrupted.
Windows XP requires a miniport driver to communicate with the hard disk controller that is used to start your computer. If Windows XP does not supply a device driver for your controller or if Windows XP is using a corrupted or incompatible driver, you must replace the driver with a valid copy that is compatible with your controller and Windows XP.

Lalu aku coba pasang kembali haddisk ini ke mobo via, dan aku cek driver IDE ATA/ATAPI Controller yang dipakai. Ternyata, walau driver VIA sudah ku uninstall sampai bersih, ternyata WinXP masih mendeteksi chipset ini, dan menggunakan driver VIA standar yang ada di paket instalasi standar WinXP.
Nah, aku lalu rubah driver ini lewat halaman update driver, menjadi driver Standard Dual Channel PCI IDE Controller. Ini dengan asumsi, bahwa ini adalah driver IDE Contoller generic, yang seharusnya akan diterima oleh semua mobo.
Ternyata dugaan ku benar adanya. Waktu harddisk ku tancap kembali ke mobo yang baru, proses booting langsung dapat berjalan dengan normal. Walau tanpa susah payah install ulang, pekerjaan dapat selesai dengan cepat. Sip dech.....

Friday, July 4, 2008

Gateway & DNS IP changer

Saat ini sudah jamak apabila, warnet atau game net memiliki lebih dari 1 jenis koneksi. Nah, hal yang kadang terasa ribet bagi seorang network administrator, ialah apabila harus memindahkan koneksi dari satu gateway ke gateway yang lain. Dimana, sementara itu, pengunjung mengantri di belakangnya. Sudah ip gateway dan dns diintip pengunjung, masih diburu-buru pula. Belum lagi kalau salah ketik...alamat diomeli pengunjung karena masih tidak bisa konek....aduh......
Berdasar dari pengalaman ini, saya mencoba bikin script sederhana. Yang tujuannya ialah memudahkan dan mempercepat pekerjaan network admin apabila menghadapi situasi ini.
Script ini hanya bekerja di OS Windows XP, baik yang Home maupun Professional, baik 32bit maupun 64bit. Script ini pada intinya memanfaatkan perintah netsh yang ada pada Windows.

Berikut ini adalah link untuk file script tersebut.
Begini cara pakainya:
  1. Buka file ganti_koneksi.bat ini dengan notepad.
  2. Perhatikan pilihan menu no. 1 s/d no. 4, dimana nama no. 1 s/d no. 3 boleh diganti dengan nama ISP yang dipakai atau nama koneksi yang dikehendaki. Pokoknya bebas diganti dech...
  3. Kemudian di bagian bawah, perhatikan baris name="Local Area Connection", ini merupakan default profile dari Network Connections milik Windows. Jika profile anda memakai nama lain, silahkan disesuaikan.
  4. Nah lalu ada baris-baris dengan xxx.xxx.xxx.xxx, gantilah dengan ip dari gateway (baris 1), dns primary (baris 2), dan dns secondary (baris 3). Ini adalah ip gateway dan dns koneksi/ISP no. 1
  5. Ulangi langkah diatas, pada yyy.yyy.yyy.yyy untuk koneksi/ISP no. 2 dan pada zzz.zzz.zzz.zzz untuk koneksi/ISP no. 3.
  6. Save perubahan yang telah dilakukan.
  7. Script boleh mulai dicoba, dimana untuk tiap pergantian ip, baik gateway maupun dns, akan muncul status ok.

Script ini bebas dipakai oleh semua orang. Gratis kok. Juga bebas untuk didistribusikan untuk semua. Cuman....harap namaku sebagai pemilik aslinya mohon jangan diutak-utik dech.
Mohon hargai hasil karya orang lain donk.....

Monday, June 23, 2008

SMC 1255TX on IPCOP


IPCOP yang kugunakan ialah versi 1.4.18, dimana red memakai enet Intel Ethernet Pro 100 sedangkan green memakai Realtek 8139D. Hari ini aku mau menambahkan 1 enet baru sebagai orange. Kucoba untuk bongkar-bongkar lemari untuk cari-cari enet merk/tipe selain di atas. Yakni biar aku ndak bingung mendeteksi enet yang mana musti colok ke mana.
Akhirnya aku menemukan enet baru, SMC 1255TX. Kucoba langsung maen tancap aja. Di post BIOS mainboard, terdeteksi bahwa ada 3 enet, masing-masing di deteksi di IRQ 10, 11, dan 12. Wah berarti ndak share IRQ, sudah pertanda baik nich.
Lalu aku masuk ke menu setup dari IPCOP untuk mengaktifkan enet baru ini. Nah pas mulai proses probing untuk mendeteksi enet baru ini......masalah timbul. IPCOP 1.4.18, entah kenapa gagal probing SMC 1255TX. Layar probing freezing, hanya tinggal layar dengan background biru.
Saat kucoba untuk membatalkan proses probing ini, IPCOP sama sekali tidak bereaksi.....bahkan keyboard pun freeze. Jadi terpaksa aku melakukan reboot, kutekan tombol reset di kompie.
Karena malas mencoba lebih jauh lagi, akhirnya SMC 1255TX ini kulepas saja. Kuganti dengan Intel Ethernet Pro 100, dan probing ulang kulakukan. Masalah beres dech....!!!